Jamuan Malam yang Riang Bersama Tuhan

Tinggalkan Komentar


John Bradford berdiri dengan berani di hadapan Lord Chancellor. "Aku membujukmu," pria muda itu berkata, "janganlah menjatuhkan hukuman kepada yang tidak bersalah. Jika kamu percaya bahwa aku bersalah, kamu harus menjatuhkan hukuman kepadaku. Jika tidak, kamu harus membebaskanku."

Bradford, pendeta yang amat dikasihi dari (gereja) St. Paulus di London, dijebloskan ke penjara karena kepercayaannya yang berbeda dari gereja agama pada masa pemerintahan Ratu Marry. Sementara di penjara, begitu banyak dari anggota jemaat yang datang untuk mengunjunginya sehingga ia meneruskan untuk berkhotbah dua kali sehari. Ia juga berkotbah setiap minggu kepada orang-orang lainnya di penjara, para pencuri dan penjahat-penjahat kecil, memberikan dorongan dari firman Allah kepada mereka, dan sering kali memberikan kepada mereka uang untuk memberi makanan.

Para penjaga Bradford sangat memercayainya, ia sering diizinkan meninggalkan penjara tanpa dikawal untuk mengunjungi anggota-anggota jemaatnya yang sakit. Yang harus ia lakukan hanyalah berjanji bahwa ia akan kembali pada jam yang ditentukan. Ia amat berhati-hati menjaga perkataannya sehingga biasanya ia sudah kembali sebelum batas waktunya.

Setelah satu setengah tahun, Bradford ditawarkan pengampunan asal ia mau menyangkal kepercayaannya, tetapi ia tidak mau. Kemudian, setelah enam bulan lagi di penjara, tawaran tersebut kembali diulang. Sekali lagi, ia menolak.

"John," sahabat-sahabatnya mengingatkan, "kamu perlu melakukan lebih banyak lagi untuk menunda bagimu lebih banyak waktu. Mintalah untuk mendiskusikan kepercayaan-kepercayaan agamamu dengan orang-orang terpelajar Ratu Marry. Hal itu akan membawamu keluar dari bahaya langsung."

John menjawab, "Jika aku melakukan itu, orang-orang akan berpikir bahwa aku telah mulai meragukan doktrin yang aku akui. Aku tidak meragukannya sama sekali." "Kalau begitu, mereka mungkin akan membunuhmu tidak lama lagi," kata sahabat-sahabatnya dengan sedih. Pada keesokan harinya, John dijatuhi hukuman mati, dan istri penjaga datang kepadanya dengan berita itu: "Besok kamu akan dibakar." Bradford menatap ke surga dan berkata, "Aku bersyukur kepada Allah atas hal itu. Aku telah menanti hal ini demikian lama. Tuhan, jadikan aku layak terhadap hal ini."

Berharap untuk mencegah kerumunan agar tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, para pengawal memindahkannya ke penjara lain di tengah malam. Namun, entah bagaimana, berita itu bocor dan sejumlah besar orang datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Banyak yang tersedu-sedu secara terang-terangan sementara mereka berdoa baginya. Bradford, sebagai gantinya, mengucapkan selamat tinggal dengan lembut dan berdoa dengan tekun bagi mereka.

Pada jam empat keesokan paginya, sebuah kerumunan besar telah berkumpul di tempat di mana Bradford akan dibakar. Akhirnya, pada jam sembilan, sejumlah besar pengawal bersenjata yang tidak lazim membawa Bradford menuju tiang pancang. Beserta dengannya adalah John Leaf, yang juga menolak untuk menyangkal imannya. Kedua pria itu jatuh tersungkur ke tanah dan berdoa selama satu jam.

Bradford bangkit berdiri, mencium sepotong kayu api, dan kemudian mencium tiang pancung itu. Dengan suara keras, ia berbicara kepada kerumunan: "Inggris, bertobatlah dari dosa-dosamu! Berhati-hatilah terhadap berhala. Berhati-hatilah terhadap nabi-nabi palsu. Berjaga-jagalah supaya mereka tidak menyesatkan kalian!" Kemudian, ia mengampuni para penganiayanya dan meminta kepada kerumunan untuk berdoa bagi dirinya.

Memalingkan wajahnya kepada John Leaf, ia berkata, "Hiburlah dirimu, saudaraku, karena kita akan menghadapi jamuan malam yang riang bersama dengan Tuhan malam ini!"

Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Diambil dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 186 -- 188

"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58)
< http://alkitab.sabda.org/?1Kor+154:58 >

Kategori: