Menulis Menyelamatkan Hidup Saya

Penulis: Caryn Mirriam-Golberg, Ph.D.

Gambar: KISAH_cinta

Mengapa menulis? Apakah menulis memberikan manfaat? Kesaksian dari Caryn Mirriam Goldberg, Ph.D. berikut ini membantu kita untuk melihat bagaimana menulis bisa menjadi pusat hidupnya. Dikatakannya bahwa menulis menyelamatkan hidupnya, ..... apakah juga mungkin dapat menyelamatkan hidup Anda?? Selamat membaca!

"Saya berusia empat belas tahun sewaktu duduk di tangga beton di depan apartemen sahabat karib saya yang segera akan menjadi mantan sahabat saya. Kami baru saja bertengkar hebat. Lomba berteriak ini akan mengakhiri persahabatan pertama saya, dan sampai saat itu, itulah satu-satunya persahabatan dalam hidup saya. Di rumah, kedua orangtua saya menghadapi perceraian terburuk abad ini, (begitulah pikir saya) telah membuat batas dengan membagi dua rumah kami, dan saya tidak yakin harus berada di sisi mana. Saya pikir, hidup saya hancur, dan saya tidak tahu harus berbuat apa." "Maka saya pun mulai menulis."

Puisi pertama saya, tidak mengherankan, yaitu tentang bagaimana seseorang dapat berubah menjadi sangat kejam. Begitu pula dengan puisi saya yang kedua dan yang ketiga. Namun, dalam proses memegang pena dan menuntunnya maju mundur di atas setiap baris, saya mulai merasakan adanya suatu harapan. Saya mulai merasa ketakutan saya berkurang, tidak terlalu merasa sendiri. Saya menyukai perasaan ini, maka saya pun terus menulis.

Menulis membuka hati saya, dan dalam prosesnya, saya mulai menemukan diri saya sendiri.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Selama dua puluh lima tahun terakhir, saya terus menulis -- kadang- kadang cepat dan tidak rapi, kadang selambat lalu lintas yang macet. Kini, saya punya rak-rak yang dipenuhi catatan harian, dan laci-laci yang dipenuhi puisi, esai, cerita, dan surat-surat. Menulis telah menjadi pusat hidup saya melebihi segala yang saya ketahui tentang diri saya sendiri dan dunia, bagaikan debar jantung di seluruh tubuh, membawa saya berulang-ulang pada kekosongan halaman dan kebutuhan untuk mengisinya. Menulis telah menyelamatkan hidup saya. Saya percaya, dengan menuangkan pikiran, puisi, dan cerita kadang berjam-jam setiap harinya, mencegah saya terlalu banyak berpikir untuk bunuh diri di saat-saat sulit dan sedih. Sebagai seorang remaja, saya bertanya-tanya, apakah saya layak hidup, dan menulis membantu saya memahami luka hati saya. Saat menulis, saya dapat mengumpulkan ketakutan dan emosi saya yang meluap-luap di atas kertas, menciptakan semacam cermin. Cermin ini menunjukkan mengapa saya merasa seperti yang saya rasakan, di mana saya sebelumnya berada, di mana saya pernah berada, dan bahkan ke mana saya mungkin pergi selanjutnya.

Saya adalah salah satu siswa yang menerima catatan dalam rapor, "Dapat meraih prestasi lebih baik, seandainya lebih berkonsentrasi dan tidak terlalu banyak melamun." Meskipun saya tidak pernah belajar berkonsentrasi tanpa melamun, namun menulis membantu saya untuk berkonsentrasi dengan menunjukkan kepada saya mengenai cara melamun yang lebih baik -- dan di atas kertas. Cerita-cerita dan puisi-puisi saya menunjukkan bahwa saya benar-benar dapat memercayai diri sendiri dan mimpi-mimpi saya. Menulis juga membantu saya dalam memahami banyak mata pelajaran di sekolah, memungkinkan saya menyuarakan perasaan saya, tentang apa yang saya pelajari dalam pelajaran filsafat, sejarah, dan lainnya.

Dalam kehidupan keluarga, menulis menunjukkan saya, sekilas, bahwa saya baik-baik saja. Saya banyak menulis tentang keluarga saya, bagaimana mereka berperilaku dan bagaimana saya menanggapinya. Sering saya tidak mengetahui apa yang sesungguhnya saya rasakan sampai saya mulai menulis. Kata-kata yang saya coretkan mencegah saya untuk merasa tidak berdaya, mencegah saya menutup diri dari dunia. Menulis, ketika itu dan sekarang, membantu saya merasakan- kadang-kadang sakit, sering kebingungan, selalu bimbang, dan sekali- sekali benar-benar gembira.

Menulis membuka hati saya, dan dalam prosesnya, saya mulai menemukan diri saya sendiri.

Menulis juga menyelamatkan hidup saya dalam hal ... kesempatan untuk terus menulis. Ia memberi saya cara membuat sesuatu yang terasa kreatif dan hidup -- sesuatu dengan daging dan tulang dan darah yang mungkin hidup dengan sendirinya, seperti monster Dr. Frankenstein. Yang terpenting, menulis membawa saya pulang. Saat mengisi catatan harian, saya merasa hidup ini berarti. Saya merasa menjadi bagian dari halaman-halaman kertas itu dan merasa diterima di sana. Tak seorang pun dapat merebut perasaan ini dari saya.

Download Audio

Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buletin : Daripada Bete Nulis Aja
Judul Artikel : Menulis Menyelamatkan Hidup Saya
Dipublikasikan : http://pelitaku.sabda.org/menulis_menyelamatkan_hidup_saya

Tinggalkan Komentar