SALIBMU YANG MENYELAMATKANKU

Aku berasal dari keluarga non-Kristen, ayah dan ibuku pensiunan PNS. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kami punya usaha kecil. Keluargaku sangat disiplin dan taat menjalankan agama mereka, jadi kami dididik dalam kerohanian, apalagi ayahku seorang pemimipin agama di tempatnya. Waktu aku duduk di bangku sekolah dasar, setiap sore aku memerdalam ajaran agamaku. SMP sampai dengan SMA, aku sudah lepas dari keluarga karena aku bersekolah di Manado. Aku tinggal berdekatan dengan anak-anak Kristen dan aku cukup akrab dengan mereka. Saat duduk di kelas dua SMP, aku mengikuti suatu kegiatan olahraga di sekolah. Setelah selesai berolahraga, kami merasa lapar dan membeli kue "biapong" dan memakannya sampai habis. Keesokan harinya, aku diberitahu temanku bahwa kue yang aku makan kemarin itu bahan isinya adalah daging babi. Spontan, aku mengucapkan kalimat tertentu karena aku merasa sangat berdosa sekali pada Tuhan. Sejak saat itu, aku selalu berhati-hati bila makan bersama dengan teman-teman Kristen. Orang tuaku pun melarang bergaul dengan mereka. Menurut orang tuaku, orang Kristen itu najis karena yang dimakan adalah barang-barang najis.

Pada tahun 1999, aku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Manado. Aku memiliki teman yang akrab bernama E, anak dari T. Kebetulan, dia adalah orang Kristen. Saking akrabnya, pada hari Minggu, aku mau mengikuti ajakannya pergi ke gereja. Seiring berjalannya waktu, aku pun mengikuti ibadah Natal. Orang tuaku tidak tahu kalau aku melanggar larangannya. Pada tanggal 28 Desember 2003, aku memutuskan untuk tidak memakai identitas agamaku lagi karena aku mulai aktif di gereja. Aku menikah dengan seorang Kristen, namun dia tidak terlalu aktif bergereja dan tidak fanatik dengan masalah agama, orang tuaku tidak merestui hubungan kami. Aku semakin rajin ke gereja meskipun posisiku belum meyakini akan keberadaan Tuhan Yesus. Suatu hari, ketika memasuki pintu gereja, aku berdoa karena aku masih ragu-ragu atas keberadaan Tuhan Yesus. Demikian isi doaku: "Tuhan Yesus, jika Engkau benar-benar Tuhan, mohon beri keajaiban-Mu supaya aku tidak meragukan keberadaan-Mu." Kemudian aku masuk gereja dan pada saat sampai di pintu, aku merasakan ada air es yang mengguyur tubuhku, dan spontan aku merasakan kesegaran yang luar biasa. Saat itu hatiku tenang. Bahkan, rasa takut dan cemas terhadap keluarga tidak ada lagi.

Suatu hari aku bermimpi, dan dalam mimpi itu, aku diajak oleh keluarga untuk menunaikan ibadah agama lamaku. Saat melakukan ritual tertentu, ada suara yang mengatakan: "Pulanglah, jangan teruskan perjalananmu anak-Ku." Suara itu terdengar tiga kali dan ternyata bersumber dari dari salib besar yang bersinar terang, "Anak-Ku, datanglah pada-Ku dan serahkanlah dirimu pada-Ku." Spontan aku terbangun dan sejak itulah aku menjadi seorang yang pendiam dan sempat aku merasakan kebimbangan. Akhirnya, aku mencoba untuk melakukan ibadah lamaku lagi. Aku pun merasakan kelumpuhan dan dibawa ke rumah sakit untuk dirawat, namun aku tak kunjung sembuh. Berbagai usaha sudah dilakukan, tetapi sia-sia. Suatu saat, aku didoakan oleh teman yang beragama Kristen, dan mukjizat terjadi. Aku bisa berdiri dengan baik. Melihat keajaiban itu, aku memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.

Waktu terus berlalu, dan ketika mengetahui aku percaya kepada Kristus, keluargaku marah besar. Mereka mencariku dengan menyewa orang lain. Akhirnya, mereka mengetahui keberadaanku dan aku disiksa serta dianiaya. Aku dibawa ke rumah tante agar tidak bisa pergi ke gereja. Sejak itu, aku putus kuliah, padahal aku hampir selesai. Saat ada kesempatan, aku pun melarikan diri ke tempat suamiku dan bersembunyi di sana. Pada bulan November 2004, aku bersama suami menghadiri ibadah KKR. Pengkhotbahnya adalah Pdt. E dari J. Aku merasa imanku dikuatkan karena pengkhotbah menggunakan Injil dan kitab lain sebagai bahan perbandingan. Saat ini, aku bersama suami mendalami Alkitab dan imanku pun semakin diteguhkan.

Demikian kesaksianku, kiranya menjadi berkat tersendiri bagi setiap pembaca. Tuhan Yesus memberkati.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Midrash Talmiddim, Edisi Kedua 2005
Judul kesaksian : Salib-Mu yang Menyelamatkanku
Penulis : SS
Penerbit : Yayasan Kaki Dian Emas, Bekasi 2005
Halaman : 13 -- 15
Kategori: 

Tinggalkan Komentar