Sudah Kutemukan

Orang yang paling kukagumi dan kucintai adalah ayahku. Beliau lahir di daerah yang miskin dan menjadi anak yatim piatu pada usia lima tahun. Pada usia itu, beliau harus mampu berdiri sendiri mempertahankan hidupnya karena tidak ada sanak saudara yang menampung dan memeliharanya.

Ayah telah berhasil, seorang anak miskin dengan pakaian compang-camping telah menjadi seorang tuan tanah dengan ladang yang luas karena usaha dan kegigihannya. Ayah berhasil, tetapi tidak sombong; meskipun sangat kuat, tetapi hatinya tetap lembut. Suatu ketika, aku melihat Ayah menangis ketika mendengar anak seorang buruhnya meninggal dunia. Ayah juga selalu menyumbangkan hasil panennya kepada gereja di kota kami. Ayah sangat mementingkan kejujuran. Beliau selalu berkata, "Jangan pernah berharap memperoleh sesuatu tanpa melalui usaha sendiri." Sungguh, Ayah adalah seorang yang baik dan mulia. Tetapi sayangnya, Ayah bukanlah "orang yang percaya" -- beliau tidak mau menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Aku selalu berdoa agar Ayah mau menerima Kristus.

Tiba saatnya aku masuk perguruan tinggi dan harus meninggalkan rumah. Aku sangat senang menjadi mahasiswi. Rasa terima kasihku semakin mendalam kepada Ayah karena usaha dan pengorbanannya selama ini, aku dan adik-adikku dapat menikmati pendidikan dengan baik.

Tiap kali liburan aku selalu menyempatkan pulang dan memanjatkan doa, "Tuhan, gerakkan hati Ayah agar mau menerima Kristus." Tetapi, Tuhan belum mengabulkan doaku karena Ayah masih tetap menolak Kristus.

Ternyata Tuhan berencana lain. Ayah jatuh sakit dan sekarat menghadapi maut -- aku selalu setia menungguinya dan tak henti-hentinya berdoa agar Ayah masih bisa memperoleh keselamatan. Keadaan Ayah semakin buruk, beliau sudah tidak sadar dan mengalami koma yang panjang.

Aku terpaksa harus kembali ke universitas untuk menghadapi ujian dan harus meninggalkan Ayah dalam keadaan yang tidak menentu. Tuhan memang memiliki rencana lain. Malam harinya aku menerima telepon bahwa Ayah sudah meninggal pada pukul 20.00. Aku sangat sedih. Selesailah sudah apa yang aku mohonkan kepada Tuhan selama ini. Aku merasakan sebuah kekalahan yang kekal dan aku pulang ke rumah dengan sederet pertanyaan, "Mengapa semua ini terjadi Tuhan? Mengapa Kau tidak mendengarkan doaku, belum cukupkah aku berdoa memohon? Dan tidak pantaskah ayahku menerima keselamatan dari-Mu? Mengapa Tuhan ...?"

Setiba di rumah, dengan air mata yang berlinang Ibu menyambutku. Namun, ada seulas senyum manis di bibirnya. Aku heran dengan semua itu, tetapi aku tidak peduli karena aku masih terlalu sedih dengan kepergian Ayah. "Duduklah sayang, Ibu mau menyampaikan sesuatu kepadamu ...," kata Ibu dengan lembut. Ibu bercerita bahwa saat dalam keadaan koma Ayah tersadar. Dengan susah payah beliau menggerak-gerakkan bibirnya, tidak terdengar suara keluar, tapi dengan mata terpejam seolah-olah beliau sedang berbicara. "Aku ... minta ... hidup ... satu jam lagi ...," itulah yang keluar dari mulut Ayah. Dan benar, satu jam kemudian Ayah meninggal.

Ayah meninggalkan satu pesan yang terdengar cukup jelas dan tegas, "Katakan pada Mega ..., sudah kutemukan Dia!" Selama 25 tahun aku ucapkan doa bagi Ayah tercinta demi keselamatannya. Akhirnya, Tuhan menjawab semua doaku itu karena aku tahu dan yakin apa yang dimaksud Ayah dengan "Dia".

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Untaian Mutiara
Judul artikel : Sudah Kutemukan
Penulis : Betsy. T
Penurbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 109 -- 111
Kategori: 

Tinggalkan Komentar